Belajar Dari Sepak Bola Maroko

Belajar Dari Sepak Bola Maroko

Belajar Dari Sepak Bola Maroko

Ribuan pasang mata supporter tuan rumah di  Stadion Gelora Sriwijaya Palembang Minggu lalu 29 September 2013 harus menyaksikan kegagalan tim Nasioanal U – 23 Indonesia untuk menjadi juara. Tim Nasional Maroko dengan sukses berhasil menjadi juara dan merebut medali emas setelah mengalahkan Tim Nasional Indonesia pada babak final dengan skor 2 – 1. Dari hasil ini, bukan hanya cara bermain dan kualitas tim yang layak di pelajari pelatih dan pemain Tim Nasional Indonesia. PSSI juga harus banyak belajar bagaimana program Tim Nasional Maroko membina sepak bola usia muda yang telah dijalankan dan di programkan selama ini.

Maroko berhasil sukses menjadi juara sepak bola Islamic Solidarity Games ( ISG ) III di Palembang. Hebatnya Tim Nasional Maroko meraih kesuksesan bukan dengan Tim Nasional Senior , melainkan dengan Tim Nasional muda Maroko U – 20. Di Afrika, Maroko bisa disebut sebagai tim yang telah maju sepak bolanya . bahkan Negara yang menempati peringkat ke – 74 dunia itu pernah mencicipi lolos ke putaran Final Piala Dunia 1998. Saat itu bintang Tim Nasional Maroko adalah Mustapha Hadji dan Noureddine Naybet. Menurut Maiza Mohamed manajer Maroko, keberhasilan dan kesuksesan Maroko ini bukan buah kerja yang instant dan mudah  sebulan dua bulan, melainkan kerja yang di lakukan sejak 2011. Lelaki 49 tahun itu menyatakan tim nya merupakan tim yang memang telah di persiapkan untuk jangka yang panjang.

“ target kami bukan di event – event regional, bukan di Afrika. Kami membangun tim ini untuk meraih yang terbaik di olimpiade Brasil 2016 mendatang “ ungkapnya. Karena target yang tinggi itu pula, Maroko membangun dan mempersiapkan programnya sejak pemain – pemain tersebut masih berusia belia . mereka di proyeksikan untuk masuk ke tim U- 19 terlebih dahulu setelah di adakan seleksi dari tim U – 16. Maiza menjelaskan seleksi itu menjadi mudah karena terbantu oleh pendataan yang baik dan kompetisi usia muda yang di adakan rutin tiap tahun oleh RMFF ( Federasi Sepak Bola Maroko ), bukan hanya di U-19 , sejak U-12 mereka sudah memiliki kompetisi  rutin yang di gelar tiap provinsi. Di setiap provinsi terdapat pemandu – pemandu bakat federasi yang siap memberikan daftar pemain terbaik untuk di beri rekomendasi.

Dengan cara seperti ini Federasi mempunyai penilaian yang sangat lengkap. Alasannya pemain yang mempunyai potensi saat usianya muda belum tent uterus berkembang dan mencapai level yang bagus di kompetisi usia berikutnya. Dari cara pembinaan dan filterisasi pemain seperti ini , ujar Maiza, dirinya tinggal memanggil pemain dan mencoba mereka dalam laga uji coba. Tim Maroko yang mengalahkan Indonesia U -23 di Final kemarin belum genap mencapai usia 20 tahun. Bahkan diantara mereka ada yang masih berusia 17 tahun.