Juninho Mempertanyakan Keamanan Piala Dunia

Juninho Mempertanyakan Keamanan Piala Dunia

Juninho Mempertanyakan Keamanan Piala Dunia

Gelandang Vasco da Gama Juninho Pernambucano mulai sanksi terhadap keamanan di negaranya. Menjadi pihak penyelenggara pada Piala Dunia 2014 mendatang, mantan pemain Olympique Lyon itu mempertanyakan faktor keamanan di dalam stadion saat ajang musim panas nanti berlangsung. Pernambucano mengaku sangat terkejut melihat kekerasan yang terjadi di dalam stadion, sehingga sempat mengganggu perhelatan akhir musim kompetisi Liga Brasil pada Minggu kemarin, dan ia memperingkatkan kepada pemerintah daerah untuk memperhatikan hal-hal seperti ini. Salah seorang penonton terpaksa dievakuasi dari dalam stadion dengan menggunakan helikopter, yang sengaja mendarat di atas lapangan, dan dua pendukung lainnya juga dilarikan ke rumah sakit, setelah pendukung Atletico Paranaense dan Vasco da Gama bentrok di tribun penonton di Stadion Joinville, di mana lokasi pertandingan dipindahkan setelah Atletico dilarang bertanding di kandang sendiri.

Pertandingan tersebut yang dimenangkan oleh Atletico dengan skor 5-1 untuk mengklaim satu tempat di ajang Copa Libertadores dan sekaligus menendang Vasco da Gama degradasi dari divisi utama, terpaksa dihentikan pada menit ke-15 dan ditunda lebih dari satu jam, sebelum akhirnya polisi anti huru hara melempar gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan masing-masing pendukung. Juninho, yang merupakan mantan pahlawan Olympique Lyon dan saat ini terikat kontrak untuk klub lokal Vasco da Gama, setelah hengkang dari New York Red Bulls namun absen sejak November lalu karena cedera dan kemungkinan membuatnya bakal mengambil keputusan untuk pensiun di usia 38 tahun, mengatakan ia sangat takut melihat kejadian tersebut. “Saya benar-benar habis kata dan tidak percaya akan apa yang saya lihat dari televisi,” kecam Juninho. “Bahkan saya meminta anak perempuan saya untuk pergi dari ruangan agar tidak melihat kejadian buruk seperti itu. Saya melihat sejumlah pemain mulai berlari di dalam lapangan dan kemudian menangis dan tidak ingin melanjutkan pertandingan ini.

“Tentu saja kejadian dan peristiwa itu akan selalu terkenang dalam lubuk pencinta sepakbola. Ini tentu saja sangat memalukan dan mengecewakan, dan saya berharap pihak pemerintahan setempat harus menanggapi hal ini dengan serius, karena bila tidak seluruh dunia saat ini sedang menunggu langkah-langkah yang tepat. Brasil akan menjadi pihak tuan rumah Piala Dunia dan keamanan wajib diperoleh semua pihak.” Perseteruan yang terjadi di Joinville merupakan insiden terbaru dari serangkaian yang mewarnai perhelatan sepakbola Brasil, yang hanya kurang dari satu tahun akan menjadi pihak penyelenggara Piala Dunia mendatang.

Bahkan salah satu babak kualifikasi Copa Libertadores lalu antara Gremio dan LDU pada Januari, hampr berakhir dengan sebuah tragedi berdarah, ketika penghalang keamanan di dalam stadion Arena do Gremio yang baru diresmikan rubuh, sementara hanya berselang satu bulan saja, anak berusia 14 tahun dari pendukung klub Bolivia, San Jose, dibunuh dengan menggunakan suar ketika terjadi bentrokan yang mewarnai Copa Libertadores melawan Corinthians. Bahkan di awal bulan ini, beberapa bagian di stadion Sao Paulo, yang akan menjadi salah satu laga pembukaan pada Piala Dunia 2014 ambruk, dan setidaknya menewaskan dua orang dan menyebabkan kerusakan yang cukup parah.